TEKNOLOGI PANGAN RAHASIA DUNIA ISLAM MENGOLAH HASIL PERTANIAN


Revolusi hijau yang bergulir sejak abad ke 8 M membuat peradaban Islam menggenggam swasembada pangan. Beragam jenis tanaman yang dikembangkan pada masa itu berhasil diolah menjadi aneka sumber pangan. Dunia Islam di masa kekhalifahan tercatat telah menguasai teknologi pangan yang lebih maju dari peradaban lain, bahkan dengan Barat sekalipun.
Asupan makanan bergizi merupa kan salah satu faktor penting yang menopang kekuatan dan keja yaan dunia Islam. Aneka sumberbahan makanan pokok yang telah dikembangkan peradaban Islam itu, antara lain tepung dan roti, gula, serta minyak sayur. Dalam per kembangannya, bahan makanan pokok itu dikembangkan menjadi seni kuliner. Pada zaman Islam, seni kuliner menempati posisi yang terbilang sangat penting.
Tepung dan Roti
Gandum tercatat sebagai bahan pangan utama yang dikembangkan negeri-negeri Islam di era kekhalifahan. Tepung gandum dikembangkan sebagai bahan dasar dalam pembuatan tepung dan roti. Memasuki abad ke-10 M, kota-kota Islam menjelma menjadi metropolitan. Teknologi pa ngan pun berkembang semakin pe sat, salah satunya adalah penggi lingan tepung yang digerakkan kincir air.
Di Baghdad saja, ada satu peng gilingan yang dilaporkan mem punyai 100 pasang batu giling dengan hasil per tahun mencapai 100 juta dirham (30 ribu ton). Kincir angin juga digunakan di tempat-tempat yang berangin cukup ke ras, seperti di Sistan, dan ada pula kincir yang digerakkan oleh bi natang, ungkap Ahmad Y Al-Hassan dan Donald R Hill dalam bukunya bertajuk, Islamic Tech nology: An Illustrated History.
Menurut Al-Hassan, dunia Islam sudah mampu menghasilkan semua jenis tepung, termasuk tepung putih dan tepung semolina. Penca paian di bidang teknologi pangan itu membuktikan bahwa peradaban Islam telah memiliki teknis yang rinci untuk setiap bagian dalam sebuah instalasi penggilingan serta produk-produknya.
Pencapaian Islam dalam teknologi pangan jauh berbeda bila di ban dingkan masyarakat Eropa Utara. Ketika masyarakat Islam telah menyantap aneka jenis pengan an yang terbuat dari beragam jenis tepung, orang Eropa Utara terkaya sekalipun hanya bisa menyantap roti dari gandum hitam.
''Mereka baru bisa mengonsumsi roti terigu setelah abad pertengahan berakhir,'' tutur Al-Hassan. Umat Islam di era kekhalifahan telah mampu membuat aneka ragam jenis roti. Berdasarkan catatan sebuah risalah berbahasa Arab, umat Muslim telah mampu menciptakan sekitar 12 jenis roti. Yang pa ling lazim, kata Al-Hassan, adalah roti berbentuk pipih dan dibuat dari tepung gandum.
Cara paling sederhana untuk mem buat roti pada masa itu de ngan meletakkan piringan baja cembung di atas tungku dari batu. Setelah itu, adonan didatarkan hing ga tipis, kemudian ditaruh di atas pelat panas dan dibakar sela ma kurang lebih tiga menit. Roti se perti itu disebut Khubz-il Saj atau Roti Saj. Roti jenis itu sa ngat populer di Suriah dan Pa lestina. ''Roti juga terkadang dibakar dalam oven,'' ungkap Hill. Orang Palestina biasanya menggunakan oven bernama tabun.

Padi
Padi merupakan bahan pokok kedua. Sumber pangan yang satu ini digunakan sebagai makanan tanpa olahan atau bahan pembuatan roti beras. Padi merupakan salah satu tanaman yang pertama kali dikembangkan pada masa Revolusi Pertanian Muslim ketika harga roti gandum masih tinggi. ''Ke hadiran roti beras telah meringankan masalah ekonomi yang mun cul di beberapa daerah,'' ungkap Al-Hassan.
Pada masa itu, pengulitan padi dilakukan dengan cara ditumbuk. Untuk menumbuk digunakan alu yang dipasang tegak lurus di ujung sebuah batang yang dipasak dan diberi beban penyeimbang sehingga dapat digerakkan dengan kaki. Nah, dari situlah berkembang alat penggilingan padi, yang pada dasar nya merupakan palu yang digerakkan tenaga air. Hingga kini, alat penumbuk padi seperti itu masih digunakan, terutama di daerah Iran.

Gula Tebu
Gula merupakan salah satu komo ditas pertanian yang paling tersohor kala itu. Penanaman tebu diper kenalkan ke Persia segera setelah Islam menaklukkan wilayah itu. Sejak itu, perkebunan tebu dan industri gula menyebar ke seluruh daerah Islam di Laut Tengah. Gula pun kemudian menjadi bahan makan an dan obat-obatan di seluruh dunia Muslim. Gula adalah satusatu nya bahan makanan yang mem buatnya membutuhkan proses kimia.
Industri gula mulai berkembang pesat seiring dibangunnya penyulingan gula oleh para sarjana Muslim. Menurut catatan sejarah, pabrik penyulingan gula sudah mulai berkembang di Pakistan, Afgha nistan, dan Iran sejak abad ke-9 M. Pabrik penyulingan gula pertama dalam peradaban Islam itu digerakkan energi yang berasal dari kincir air dan kincir angin.

Minyak Sayur
Minyak sayur selalu menjadi bagian penting dalam masakan orang Islam. Peradaban Islam mampume ngolah dan membuat aneka jenis minyak, seperti minyak zaitun, minyak wijen, biji kapas, bunga madat, dan bahan-bahan sejenis. Bahkan, ada pula jenis minyak biji rami dan minyak daun jarak (kastroli) untuk keperluan industri.
Di antara semua jenis minyak itu, yang paling berharga adalah minyak zaitun. Itulah mengapa pohon zaitun sangat dihargai dalam kebudayaan Islam, bahkan Alquran sekalipun. Itu karena pohon ini memiliki umur panjang dan nilai buahnya sangat tinggi. Pohon ini banyak ditemukan di negeri-negeri Laut Tengah dan wilayah Islam. Suriah serta Tunisia dikenal sebagai produsen minyak zaitun.
Geografer Muslim, Al-Muqa dassi, menyebutkan, Suriah merupakan produsen minyak zaitun yang paling tersohor, bahkan hingga di ekspor ke Mesir. Di Banunash terdapat tak kurang 360 tempat pe merasan biji zaitun, ujarnya. Sedangkan, wijen merupakan tanaman musim panas dan minyak shiraj atau sijih. Penggunaan minyak ini menyebar luas di tempattempat yang tidak memproduksi minyak zaitun. desy susilawati/hri

0 komentar:

Poskan Komentar